Okey, one quetion. What is it ? It's a movie, short movie. Well, it was made when i was in Senior High School with my friends. They are Lukman and Puti. And also Anas as the camera man. It is not the best movie, but it is unforgatable moment for us. :)
Showing posts with label Literatures. Show all posts
Showing posts with label Literatures. Show all posts
Tuesday, April 16, 2013
Posted by Dwi Cahya Pramanda on 1:35 PM with No comments
Okey, one quetion. What is it ? It's a movie, short movie. Well, it was made when i was in Senior High School with my friends. They are Lukman and Puti. And also Anas as the camera man. It is not the best movie, but it is unforgatable moment for us. :)
Posted by Dwi Cahya Pramanda on 1:18 PM with No comments
Sunday, March 24, 2013
Posted by Dwi Cahya Pramanda on 11:53 PM with No comments
Here we go. An article that I made when i was in Senior High School 2 Purwokerto.
TATA KOTA MEGAH DR. ANGKA PUN BERUBAH
Sepintas kita melihat berbagai jalan di Kota Purwokerto kini mulai bersaing dengan jalan-jalan di Kota besar lainnya. Kota “Satria” ini seperti tak mau kalah dengan si “Batik” Pekalongan, Kota “Pahlawan” Surabaya, Kota “Pelajar” Yogyakarta, dan kota-kota besar lainnya. Kota-kota besar akan sangat identik dengan adanya pembangunan metode cepat, gedung-gedung pencakar langit, sampai jalan-jalan yang menembus bukit. Mungkin hal itulah yang akan dicapai sebentar lagi di kota Purwokerto. Hanya saja kadang tidak terpikirkan oleh kita sebagai manusia untuk menjaga alam guna menjaga siklus kehidupan di muka bumi ini.
TATA KOTA MEGAH DR. ANGKA PUN BERUBAH
Sepintas kita melihat berbagai jalan di Kota Purwokerto kini mulai bersaing dengan jalan-jalan di Kota besar lainnya. Kota “Satria” ini seperti tak mau kalah dengan si “Batik” Pekalongan, Kota “Pahlawan” Surabaya, Kota “Pelajar” Yogyakarta, dan kota-kota besar lainnya. Kota-kota besar akan sangat identik dengan adanya pembangunan metode cepat, gedung-gedung pencakar langit, sampai jalan-jalan yang menembus bukit. Mungkin hal itulah yang akan dicapai sebentar lagi di kota Purwokerto. Hanya saja kadang tidak terpikirkan oleh kita sebagai manusia untuk menjaga alam guna menjaga siklus kehidupan di muka bumi ini.
Jalan sebagai salah satu fasilitas yang perlu dipikirkan secara serius agar kelak tidak merugikan pihak pengendara maupun pejalan kaki. Bagi pengendara, jalan yang lebar dan lenggang merupakan suatu kebutuhan. Juga agar tidak terjadi penumpahan berbagai kendaraan bermotor yang mengakibatkan padatnya pengguna jalan raya. Berbagai masalah seperti macet, jalan berlubang, lebar jalan yang sangat sempit akan membuat para pengemudi kendaraan bermotor kewalahan. Sehingga pemerintah kota pun akan membuat alternatif untuk membuka jalan dan memperlebarnya agar mempermudah sistem lalu lalang kendaraan bermotor untuk menghindari kemacetan dan resiko kecelakaan. Sebagai contohnya , kini kita dapat melihatnya di jalan Dr. Angka, Purwokerto Timur. Jalan Dr. Angka tempo 2 bulan lalu adalah tempat yang rindang akan pepohonan. Jalannya memang terbilang sempit, tetapi setidaknya asap-asap kendaraan bermotor masih sanggup ditampung si “hijau” disekeliling jalan Dr. Angka sehingga udara pun cukup segar untuk dinikmati para pengguna jalan.
Kini Dr. Angka telah berkembang, berwujud lebar, gundul, dan sangat menyilaukan. Pelebaran jalan Dr. Angka merupakan salah satu kebijakan Pemerintah kota guna mengatasi berbagai problema masyarakat dalam hal transportasi publik. Jalan tersebut telah digunakan sejak lama dan kini jalan tersebut sangat ramai oleh kendaraan bermotor maupun pejalan kaki. Sehingga keputusan yang sangat tepat bagi pemerintah untuk memperlebar jalan tersebut guna mengurangi resiko kemacetan dan mungkin juga resiko kecelakaan. Namun langkah tersebut tak sanggup menutupi segala efek negatif yang timbul akibat pembukaan jalan Dr. Angka. Masalah kompleks yang timbul ialah masalah penghijauan di sekitar jalan Dr. Angka. Sebagai seorang pejalan kaki, tentu kita akan sangat membutuhkan payung alami yang selalu menemani kita dalam menapakkan langkah kaki di Jalan. Payung tersebut adalah pohon-pohon yang kini hanya berwujud aspal yang gersang. Teriknya matahari seolah bebas membakar aspal di jalan sehingga panasnya sampai terasa di sekujur tubuh pengguna jalan. Akibatnya, para pejalan kaki pun enggan keluar rumah saat cuaca cerah di siang hari. Sangat berbeda saat si “Hijau” masih hadir di sekitar kita.
Polusi udara adalah konsekuensi lain yang tak terelakkan akibat pelebaran jalan Dr. Angka. CO2 yang dulu masih dikonsumsi pohon-pohon sekitar, kini bebas berkeliaran di jalan raya yang panas. Mungkin cara paling aman bagi pejalan kaki di Dr. Angka menggunakan masker saat melintas. Sungguh ironis bagi orang-orang yang sudah lanjut usia dan anak-anak, mereka tidak dapat bebas beraktivitas di luar rumah, khususnya di jalan Dr. Angka karena itu akan mengganggu kesehatan mereka. Dengan adanya pelebaran jalan ini, akan mengganggu aktivitas terutama pengguna jalan sebagai pejalan kaki di jalan tersebut.
Mungkin cara yang terlintas oleh Pemerintah Kota Purwokerto hanyalah melakukan penghijauan dengan menanam bibit-bibit pohon di pinggir jalan. Namun, butuh waktu berpuluh tahun lamanya bagi si “hijau” muda untuk tumbuh dan berkembang menjadi payung-payung kehidupan umat manusia. Coba saja, jika kelak semua pohon ditebang guna memenuhi kebutuhan manusia yang tak kunjung mencapai titik kepuasan, tidak akan menutup kemungkinan Bumi akan menjadi padang yang gersang dan pasti akan mengganggu stabilitas alam. Maka dari itu, perlu bagi pemerintah kota untuk memikirkan dalam-dalam masalah tata kota yang lebih efektif dalam memperjuangkan slogan “GO GREEN” yang kini diserukan oleh orang-orang peduli dan pecinta alam di seluruh dunia.(JPS)
Posted by Dwi Cahya Pramanda on 11:42 PM with No comments
Well,, guys. This is my own special story that i've made when i was in Junior Highschool. It looks childish but i proud of it! :D
FEEL FREE TO READ ^_^
illustrated picture
Di sebuah hutan, tinggalah sekelompok tupai yang hidup di pohon-pohon yang terdapat di hutan tersebut. Di sebuah pohon, tinggal keluarga topio. Topio adalah seekor tupai yang terkenal sangat nakal dan tidak berbhakti kepada orang tuanya. Lebih parah lagi, dia tidak percaya akan adanya Tuhan yang menciptakan seluruh alam dan seisinya. Ayahnya yang bernama Tapopi sering kali mengingatkan topio agar mengubah kelakuannya. Sampai ibunya yang bernama Pipi pernah marah dan memukul topio.
FEEL FREE TO READ ^_^
illustrated picture
Di sebuah hutan, tinggalah sekelompok tupai yang hidup di pohon-pohon yang terdapat di hutan tersebut. Di sebuah pohon, tinggal keluarga topio. Topio adalah seekor tupai yang terkenal sangat nakal dan tidak berbhakti kepada orang tuanya. Lebih parah lagi, dia tidak percaya akan adanya Tuhan yang menciptakan seluruh alam dan seisinya. Ayahnya yang bernama Tapopi sering kali mengingatkan topio agar mengubah kelakuannya. Sampai ibunya yang bernama Pipi pernah marah dan memukul topio.
Suatu hari Topio akan bertanding sepak bola tupai bersama kawan-kawannya. Sepak bola tupai ini sangat terkenal sebagai olahraga tupai paling bergengsi di dunia. Bola yang dipakai adalah buah kenari. Topi, salah satu teman Topio adalah jagonya sepak bola Tupai. Dia juga anak tupai yang rajin dan juga beriman. Beda sekali dengan Topio. Namun mereka berdua adalah sahabat sejati yang berteman sejak masih kecil. Pertandingan antar grup Topio dan Trapiopun dimulai. Waktu demi waktu berlalu. Grup Topi mengalahkan grup Trapio dengan skor 5-3. Ke 5 skor itu di cetak oleh Topi. Topio menggeram “Hhh...Apa-apaan ini !!! Seharusnya skor itu aku yang harus dapatkan !!! Topi, kenapa kamu begitu hah !!!” Topi yang kaget menjawab “Ada apa ini ? Bukankah tadi kamu sudah mendapatkan bola ? Tapi kamu selalu terpancing amarah hingga tidak konsentrasi ! Sadarilah, itu kesalahanmu sendiri !” Topi menasehati . “ Apa kamu bilang !” Duak ! Topio menghajar Topi dengan sangat keras. “Astaghfirullah...Apa yang kamu lakukan ? Aku ini temanmu Topio ! Istighfarlah ! Setan sedang menguji amarahmu !” Kata Topi. “Apa itu istighfar ?! Hari gini masih percaya kamu dengan yang begituan ?! Dasar per***** dengan hal itu !” Kata Topio. “Masya Allah...Apa yang kamu katakan ? Apa kamu sudah gila ? Cepat istighfar, sebelum semua terlambat !” Topi menasehati dia sekali lagi. “Ah ! Berisik ! Lebih baik aku pulang saja !” Kata Topio sembari memanjat pohon dan pulang ke rumahnya.
Keanehan terjadi pada rumah Topio. Pintu rumahnya hilang seakan ditelan bumi. “Apa yang terjadi ? Apa aku salah pohon ya ? Tidak, disitu tertulis rumah bapak Tapopi. Tidak salah lagi ! Ini rumahku. Apa yang terjadi dengan rumahku ? Bagaimana aku bisa masuk sementara pintunya tidak ada ?” Kata Topio heran. “Huah.....Ahh...Lebih baik aku tidur di dahan pohon saja. Lagi pula aku sudah ngantuk !” Lanjutnya.
Sementara itu, malampun datang. Topio tinggal sendiri. Sedangkan tupai yang lain pulang ke rumah masing-masing. Malam semakin larut, tepat pukul 12.00, Topio terbangun dari tidurnya. “Hah ? Sudah malam ? Aduh, aku harus pulang sekarang !” Kata Topio. Saat turun dari dahan pohon tersebut. Datang angin yang sangat besar disertai hujan lebat. “Apa-apaan ini ?! Tidak ada tanda akan turunnya badai baunnyapun tak tercium oleh hidungku ! Tiba-tiba, badai ini datang sendiri !” Kata Topio heran. “Ah..!!! Aku tidak bisa bergerak ! Angin ini sangat kencang ! Kalau begini, aku bisa mati ! Ayah ! Ibu ! Topi ! Dimana kalian ?!” Teriak Topio. Anehnya angin itu tidak membuat satu tupaipun panik. Suasana begitu hening. Seperti hanya Topio sendiri saja. “Ah...Anginnya semakin kencang ! Toolooongg ! Tolong aku !” Teriak Topio ketakutan dan akhirnya menangis. Dalam tangisannya itu. Dia mendengar pohon, batu, bunga bertasbih “Subhanallah...Maha Suci Allah...Allahuakbar...Allah Maha Besar...Lailahailallah...Tiada tuhan selain Allah”. Mendengar hal itu, tubuh Topio bergetar san akhirnya dia sadar akan semua kesalahnnya. “Ya Allah Tuhan semesta alam...Ampunilah dosa hamba ya allah ! Hamba mohon ampun ! Hamba memang bersalah dan pantas di laknat oleh-Mu ya Allah! Ampun !” Teriak Topio memohon ampun dengan menangis.
Tiba-tiba hujan badai itu hilang. “Allahuakbar...!!! Alhamdulillah...Terimakasih ya Allah ! Hamba berjanji akan menjadi seorang anak tupai yang baik ! Hamba berjanji !” Kata Topio. Tiba-tiba gelap. Topio terbangun dari mimpinya dan beranjak dari tidurnya sambil berkata“Astaghfirullah hal’adzim !!!”. “Hah ?! Ternyata mimpi. Ayah...Ibu....!!!” Topi berteriak. “Ada apa anakku ?! Kenapa kamu berkeringat ?” Kata ayah Topio. “Ayah..Ibu...Ampunilah anak kalian ini. Topio sangat merasa bersalah !” Kata Topio. “Ada apa ini Topio ?” Tanya ibunya. “Aku bermimpi kalau aku diserang badai. Hanya aku sendiri. Tapi, tiba-tiba aku mendengar seisi alam bertasbih, bu !” Kata Topio. “Subhanallah..Ternyata kamu telah diingatkan oleh Allah SWT nak. Tuhan yang telah menciptakan kita. Kamu harus bersyukur telah diingatka dan mohon ampun kepada-Nya wahai anakku” Kata Ayah Topio. “Iya ayah...Ibu...Topio mohon maaf atas kelakuan Topio selama ini” Kata Topio sambil menangis. “Iya..Kami memaafkanmu anakku” Kata ibu Topio.
Setelah kejadian itu, sekarang Topio menjadi anak yang rajin, sholeh, baik, dan pintar. Tidak lupa dia meminta maaf kepada semua Tupai yang pernah dia buat celaka. Terutama Topi. Singkat cerita, mereka hidup rukun dan menjadi sahabat hingga tua. Hingga anak cucu mereka lahir. Dan selama itu, seluruh alam semesta ini selalu memanjatkan doa dan selalu bertasbih. Sehingga alam semesta ini damai sampai Yaumul Akhir kelak.
Subscribe to:
Posts (Atom)

